Ambon, Terasfakta.com- Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena menegaskan bahwa ritual adat Cuci Negeri Soya bukan seremoni seremonial tahunan semata, melainkan fondasi kesiapan spiritual, sosial, dan identitas warga jemaat dalam menyongsong Natal. Penegasan itu disampaikannya saat menghadiri langsung ritual adat Cuci Negeri Soya di Negeri Soya, Jumat (12/12/2015).
Di hadapan masyarakat adat dan jemaat, Wattimena menyatakan bahwa Cuci Negeri adalah warisan leluhur yang sarat nilai historis, religius, dan sosial, yang telah hidup dan dijaga secara turun-temurun. Tradisi ini bahkan telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda nasional, sehingga tanggung jawab pelestariannya tidak bisa ditawar.
“Kegiatan adat seperti Cuci Negeri ini harus terus kita jaga, pertahankan, dan pelihara, serta diwariskan kepada anak cucu ke depan. Ini bukan hanya tentang adat, tapi juga nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan oleh para leluhur,” tegas Wattimena.
Menurutnya, ritual Cuci Negeri menjadi ruang pendidikan sosial bagi masyarakat untuk meneguhkan nilai kebersamaan, kesucian batin, dan penghormatan pada kearifan lokal yang diwariskan tua-tua adat. Karena itu, Pemerintah Kota Ambon menempatkan pelestarian adat sebagai bagian penting dari pembangunan kebudayaan yang berkelanjutan.
Wattimena menekankan komitmen Pemkot Ambon untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam praktik budaya, termasuk penggunaan busana adat seperti kebaya dan kayang kabaya dalam setiap momentum adat dan keagamaan. Langkah ini dinilai strategis agar adat tidak terputus oleh zaman.
Tak berhenti pada aspek pelestarian, Pemkot Ambon juga mendorong penguatan adat sebagai daya ungkit ekonomi dan pariwisata budaya. Ikon-ikon budaya, termasuk Papa Lele yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda, diarahkan menjadi magnet wisata berbasis identitas lokal, dengan penyediaan ruang yang layak bagi pelaku adat dan masyarakat untuk beraktivitas ekonomi.
“Dari Soya, kita belajar bagaimana adat dan budaya bisa dijaga sekaligus menjadi kekuatan identitas dan pariwisata Kota Ambon. Adat harus hidup, memberi manfaat, dan menyejahterakan masyarakatnya,” pungkas Wattimena.
Ritual Cuci Negeri Soya pun kembali menegaskan posisi adat bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan kekuatan hidup yang menyatukan iman, budaya, dan masa depan Kota Ambon. (E*L)












