AMBON, Terasfakta.com- Pemerintah Kota Ambon mengunci arah pembangunan pariwisata 2025 pada pengembangan kawasan secara terintegrasi. Strategi ini ditegaskan sebagai langkah konkret untuk memacu lonjakan kunjungan wisata sekaligus memastikan pertumbuhan pariwisata yang terencana, berkelanjutan, dan berbasis kekuatan lokal.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Ambon, Christian Tukloy, menegaskan seluruh program pariwisata disusun selaras dengan 17 program prioritas Wali Kota dan Wakil Wali Kota Ambon, serta mengacu pada Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan. Penegasan tersebut disampaikan Tukloy kepada awak media melalui rilis resmi di Ambon, Kamis (11/12/2025).
“Pengembangan pariwisata Ambon tidak lagi berjalan parsial. Kami fokus pada konsep kawasan yang terintegrasi, terencana, dan saling menguatkan untuk mendorong peningkatan kunjungan wisata,” tegas Tukloy.
Ia menjelaskan, pendekatan terintegrasi itu diwujudkan melalui penetapan Kawasan Strategis Pariwisata (KSP) yang telah dipetakan dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (Ripparda). Penentuan kawasan didasarkan pada tiga komponen utama Daya Tarik Wisata (DTW), yakni wisata alam, wisata budaya, dan wisata buatan.
KSP 01 Leitimur Selatan ditetapkan sebagai kawasan unggulan pertama yang meliputi tujuh negeri: Hutumuri, Rutong, Hukurila, Leahari, Ema, Kilang, dan Naku. Tukloy menyebut, Rutong telah berkembang sebagai Desa Wisata, sementara negeri-negeri lainnya terus dibenahi. “Desa Ema memiliki DTW Air Majapahit, sementara Hutumuri mengembangkan wisata buatan melalui Sanggar Kakoya Tahuri,” ujarnya.
Sementara itu, KSP 02 Nusaniwe difokuskan pada pengembangan tujuh lokasi unggulan, yakni Amahusu, Nusaniwe, Latuhalat, Seilale, Urimessing (Kusu-Kusu) serta dua kelurahan Nusaniwe dan Kudamati. Penataan kawasan diarahkan pada destinasi yang sudah dikenal luas seperti Paralayang Nusaniwe, Pintu Kota, Latuhalat, dan Amahusu.
Adapun KSP 03 Sirimau mencakup enam titik unggulan, yaitu Soya, Honipopu, Karpan, Ahusen, Uritetu, dan Pandan Kasturi, dengan prioritas penguatan atraksi dan pengalaman wisata.
Menurut Tukloy, sasaran utama dari pengembangan pariwisata terintegrasi ini adalah meningkatnya arus kunjungan wisatawan ke Kota Ambon. Pemerintah kota, kata dia, terus menggenjot promosi wisata alam, budaya, dan atraksi unggulan melalui berbagai kanal, termasuk partisipasi aktif dalam event berskala nasional.
Upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Ambon mencatat prestasi pada Anugerah Pesona Indonesia, dengan Juara 2 kategori Minuman Tradisional melalui Jus Tomi-Tomi Rutong, serta Juara 3 kategori Wisata Olahraga dan Petualangan lewat Paralayang Nusaniwe. Selain itu, Pemkot Ambon juga konsisten mengangkat kekayaan budaya lokal melalui Warisan Budaya Tak Benda “Papalele”.
Di tingkat atraksi, pergerakan wisatawan terus didorong melalui pelaksanaan Amboina International Music Festival dan Santa Claus Festival yang digelar pada Oktober hingga awal Desember 2025.
“Pariwisata Ambon harus tumbuh dari kekuatan kawasan yang dirancang matang dan mencerminkan identitas lokal. Dengan strategi ini, peningkatan kunjungan wisata bukan sekadar target, tetapi keniscayaan,” pungkas Tukloy. (E*L)












