Ambon, Terasfakta.com- Arus penumpang selama dibuka Posko Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru 2025/2026) di Pelabuhan Ambon, mencatat capaian signifikansi.
Selama 21 hari operasional posko Nataru, jumlah penumpang yang dilayani mencapai 77.821 orang atau melonjak 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Kantor Kesyabandaraan dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Ambon sejak 18 Desember 2025 hingga 7 Januari 2026, sebanyak 37.148 penumpang turun dan penumpang naik mencapai 40.673 orang.
General Manager (GM) Pelindo Regional 4 Ambon, Zahlan, mengatakan capaian ini berada di luar perkiraan awal.
Bahkan, lonjakan arus penumpang menempatkan Pelabuhan Ambon sebagai pelabuhan dengan jumlah penumpang tertinggi keempat secara nasional selama periode Nataru kali ini.
“Ini diluar dugaan kami. Jumlah penumpang Nataru 2025/2026 menjadikan Ambon sebagai pelabuhan empat besar nasional, hanya dibawah Tanjung Pinang, Tanjung Balai Karimun, dan Tanjung Perak,” ujar Zahlan di ruang kerjanya Kamis (8/1/2025) usai hadir kegiatan Penutupan Posko dan Evaluasi Nataru 2025/2026 di Ambon.
Yang cukup mencuri perhatian, Pelabuhan Ambon berhasil melampaui Pelabuhan Makassar yang selama ini dikenal sebagai pelabuhan tersibuk di kawasan Indonesia Timur.
“Makassar kali ini kita salip. Dalam arti Makassar berada di lima besar, sementara Ambon menempati posisi keempat nasional dalam penggunaan jasa layanan pelabuhan laut,” kata Zahlan yang baru sekitar satu tahun bertugas memimpin Pelindo Regional 4 Ambon.
Sebagai perbandingan, periode Nataru 2024/2025, total penumpang yang dilayani Pelabuhan Ambon tercatat sebanyak 72.427 orang.
Kenaikan pada tahun ini disebutkan Zahlan sebagai hasil dari kolaborasi lintas sektor, meski dihadapkan pada sejumlah keterbatasan.
Selama arus mudik dan balik Nataru, Pelabuhan Ambon sempat menghadapi beberapa kendala, mulai dari kepadatan penumpang hingga keterbatasan fasilitas akibat revitalisasi terminal.
Namun, masalah tersebut dapat diatasi, mulai dari penambahan armada kapal, penyediaan toilet portable, serta pengalihan penumpang ke kapal alternatif bagi mereka yang belum terangkut.
“Ini adalah capaian bersama. Kerja sama antara para pemangku kepentingan di Pelabuhan, Pemerintah Provinsi Maluku, hingga Pemerintah Kota Ambon, menjadi kunci sehingga seluruh rangkaian Nataru dapat dilalui dengan baik,” tutup Zahlan. (E*L)












