Namlea,Terasfakta.com- 1 Oktober 2025 Pertandingan Taekwondo dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Buru tahun ini menuai kecaman keras. Acara yang dibuka secara simbolis oleh Bupati Ikram Umasugi itu kini diduga menyimpan motif buruk, bahkan potensi korupsi anggaran oleh pihak penyelenggara.
Nurjannah Rahawarin, Ketua DPD LSM INTRA-WIN Provinsi Maluku, wartawan senior, dan juga mantan atlet bela diri LEMKARI, menyebut pelaksanaan pertandingan tersebut sebagai “resmi di luar, ilegal di dalam”.
“Acara ini kelihatan sah dan meriah, tapi isinya sangat buruk. Anak-anak dibiarkan bertanding dalam keadaan lapar dan haus, tanpa tim medis, tanpa air, tanpa makanan. Bahkan mereka harus membayar sendiri untuk mendapatkan piala plastik yang nilainya tak sebanding. Ini bukan kelalaian biasa, ini bisa jadi ada motif jahat tersembunyi,” ujar Nurjannah dengan tegas.
Nurjannah, adalah ibu dari salah satu atlet yang bertanding, Putri Februari, yang meraih kemenangan dalam kondisi fisik yang sangat menyedihkan: bertanding tanpa makan dan minum yang layak.
Diduga Ada Korupsi Berkedok Kegiatan Olahraga
Bukan hanya soal fasilitas yang minim, Nurjannah juga menyoroti adanya dugaan kuat penyelewengan dana hibah KONI, APBD, dan bahkan potensi pemotongan ADD (Alokasi Dana Desa) untuk kepentingan perayaan HUT Kabupaten Buru.
“Kami menerima informasi dari beberapa kepala desa bahwa ada pemotongan dana desa untuk mendukung kegiatan ini. Tapi yang terjadi di lapangan justru sangat jauh dari kata layak. Ke mana uang itu pergi? Siapa yang bertanggung jawab? Ini bukan sekadar buruknya manajemen, ini bisa mengarah ke korupsi,” tambahnya.
Panitia pelaksana dari unsur Dojang Taekwondo lokal disebut-sebut ikut serta dalam pengondisian acara secara manipulatif, demi kepentingan pribadi maupun kelompok. Beberapa di antaranya adalah:
1.Aldi Basri (Dojang Marsegu)
2.Uci
3.Sofyan Muhammadia yang sempat saya ikut marah kepadanya padahal dia inikan wartawan tetapi Ada kejahatan besar yang dia tutupi..
Wajar kalau dia saya sikat di depan orang tua para atlit. saya lebih tau dia. sehingga wajar saat itu saya sampaikan didepan panitia.. saya ngamuk. ini ada kong kali kong kejahatan yang di tutupi dengan sengaja..
Bukankah ini acara resmi Bahka terdapat Poster Bupati Ikram umasugi dan Sudarmo? Bukankah ini adalah Hajatan Hut Kabupaten yang ada anggaran melalui APBD. mengapa anak anak dibiarkan lapar dan haus dalam bertanding seharian bahkan ada yg sampai baru satu ronde sudah pusing dan hampir pinsan.
Saya sampaikan ini di depan panitia bersama beberapa orang tua yang sudah mulai resah kepada anak anak mereka..
Gozali sebdiri sebagai panitia yang berhadapan dengan saya membuka bicara yang membuat saya berpikir benar ada diskriminasi terhadap anak anak atlit.
Satu lainnya belum teridentifikasi
Sementara itu, kegiatan tersebut diikuti oleh lebih dari 300 peserta, namun tanpa dukungan logistik dasar, pelayanan medis, maupun pengawasan keamanan.
Kegiatan Olahraga atau Proyek Siluman?
Kritik tajam juga diarahkan kepada Dispora Kabupaten Buru, perwakilan KONI, dan jajaran pemerintah daerah yang dinilai tutup mata terhadap kondisi mengenaskan peserta. Beberapa pejabat hadir di lokasi, namun tidak terlihat adanya upaya perbaikan atau kontrol terhadap jalannya acara.
“Anak-anak ini dijadikan alat seremonial untuk kepentingan politis dan proyek. Tidak ada jiwa sportivitas, tidak ada perlindungan, hanya ada kemasan luar yang menipu publik. Saya duga ini sudah dirancang dengan sangat licik,” ujar Nurjannah.
Ia menilai, pengabaian terhadap keselamatan anak-anak bukan lagi bentuk kelalaian teknis, melainkan kejahatan moral dan administratif, apalagi bila terbukti ada aliran dana yang tidak sesuai peruntukannya.
Langkah Hukum: Menpora dan Kejaksaan Akan Dilibatkan
Nurjannah menyatakan, siap membawa kasus ini ke tingkat nasional. Ia berencana menyurati langsung Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora RI), Kejaksaan Tinggi MA. (TF-1)












