TNS, Terasfakta.com- Puluhan tempurung kelapa yang sebelumnya hanya dibuang kini menjadi sumber pendapatan baru bagi keluarga di Desa TNS, Kabupaten Maluku Tengah. Berkat Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Pattimura yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, kelompok pemuda setempat berhasil mengolah limbah kelapa menjadi briket ramah lingkungan, menciptakan peluang ekonomi sekaligus menjaga lingkungan.
Program ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat tahun 2025 yang bertujuan memberdayakan masyarakat melalui inovasi berbasis potensi lokal. Dana yang disalurkan kementerian memungkinkan penyediaan peralatan produksi, pelatihan teknis, serta pendampingan intensif dari tim dosen dan mahasiswa KKN.
Salah satu peserta, Sonya Hehamahua, yang merupakan ketua kelompok pemuda, menceritakan pengalamannya:
“Sebelumnya limbah kelapa hanya kami buang atau bakar, tidak ada nilai ekonominya. Sekarang, setiap minggu kami bisa memproduksi briket hingga 50 kilogram dan menjualnya ke pasar lokal. Pendapatan keluarga meningkat, dan saya bangga bisa ikut memberdayakan desa.” kata Hehamua.
Program ini dijalankan melalui kegiatan terpadu mulai dari survei lapangan, sosialisasi teknologi, pelatihan teknis dan manajerial, hingga pendampingan produksi. Mahasiswa KKN Universitas Pattimura menjadi fasilitator, mendampingi para peserta langsung di lapangan, mulai dari pemilihan bahan baku, karbonisasi tempurung, pencampuran perekat, hingga pencetakan dan pengemasan briket.
“Tujuan kami tidak hanya meningkatkan produksi, tapi juga kualitas dan pemasaran briket,” jelas Vilma Laurien Tanasale, salah satu dosen pendamping. “Dengan dukungan dana dari kementerian, kami dapat menyediakan peralatan modern sekaligus memberikan pelatihan intensif, sehingga peserta mampu mengelola usaha secara mandiri dan berkelanjutan.” jelasnya.
Hasilnya cukup menggembirakan. Stabilitas pembakaran briket meningkat 25–30 persen, kadar air turun 12–15 persen, dan kapasitas produksi rutin mencapai 50 kilogram per minggu. Program ini juga menghadirkan inovasi teknologi keras seperti tungku karbonisasi hemat energi, alat penghancur dan pencetak briket, serta peralatan pengemasan sederhana dari bahan lokal. Di sisi lain, teknologi lunak berupa panduan produksi, modul manajemen usaha mikro, dan strategi branding membantu para peserta mengelola usaha secara profesional.
Dampak program tidak hanya terasa dari segi ekonomi. Kelompok pemuda yang terbentuk melalui PKM kini mampu bekerja sama, membangun semangat gotong royong, dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya lingkungan. Limbah tempurung kelapa yang sebelumnya dibuang kini menjadi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan, sekaligus mengurangi pencemaran di sekitar desa.
Marlina Kurmasela, seorang ibu rumah tangga yang ikut dalam program, mengatakan:
“Pendapatan tambahan dari briket membantu kami memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Anak-anak juga belajar bahwa limbah bisa bermanfaat jika dikelola dengan baik.” ujarnya
Keberhasilan PKM ini menjadi contoh nyata bahwa pemberdayaan berbasis sumber daya lokal, dengan dukungan dana dan program dari kementerian, dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mendorong kemandirian ekonomi, dan memberikan manfaat lingkungan. Pemerintah desa pun berharap model ini dapat direplikasi di desa-desa lain di Maluku Tengah.
Dengan keberhasilan ini, briket ramah lingkungan dari tempurung kelapa tidak hanya menjadi energi alternatif, tetapi juga simbol inovasi lokal dan kekuatan pemuda untuk mengubah limbah menjadi peluang nyata berkat sinergi akademisi, masyarakat, dan dukungan pemerintah melalui program pemberdayaan masyarakat berbasis skema kemitraan tahun 2025. (E*L)












